← Kembali ke Case Studies

Shin Tae-yong Masterclass

Shin Tae-yong Masterclass. Sebuah video course sepak bola yang mengemas pengalaman dan pengetahuan Coach STY dari filosofi, taktik, sampai studi kasus pertandingan nyata.

// KategoriCommercial
// LayananVideografi
// ClientShin Tae-yong
Shin Tae-yong Masterclass
// Tantangan

Tantangan project ini

• STY native speaker Korea, tim nggak ngerti bahasanya • Timeline cuma 9 hari untuk seluruh post-production • 14 video harus selesai tanpa kompromi kualitas

// Pendekatan

Pendekatan kami

Tanpa Ini, Editing 14 Video Bakal Jadi Mimpi Buruk

14 video, masing-masing dari satu pertanyaan. Setiap pertanyaan bisa di-take berkali-kali sampai jawabannya pas — visual, intonasi, struktur. Tanpa pencatatan yang ketat, meja editing bakal chaos.

Solusinya: logbook + clapper yang disiplin dari detik pertama.

  1. Clapper menandai di depan kamera: Bab berapa, pertanyaan berapa, take berapa.
  2. Setiap take yang approved langsung dicatat file name-nya ke logbook.
  3. Pengambilan gambar harus urut per pertanyaan — nggak boleh lompat.
  4. Jawaban panjang (misal Q7) dipecah jadi beberapa part take.

Kenapa Manual?

Dengan sistem ini, take yang nggak approved langsung di-reject di set. Editor nggak perlu sifting ratusan file belakangan — yang masuk timeline cuma yang sudah pasti. Untuk scale 14 video dalam 1 hari shooting, ini justru lebih efisien.

Takeaway:

Invest waktu di sistem awal, hemat berjam-jam di post. Logbook yang ketat = editing yang smooth.

Bayangin Harus Nge-cut Video yang Bahasanya Kamu Nggak Ngerti

STY ngomong full bahasa Korea. Kami nggak ngerti satu kata pun. Tapi kami harus nge-cut dan nyusun ceritanya dengan tepat.

Solusinya? Kombinasi AI + telinga + double check manual.

KAN ADA TRANSLATOR ON-SET?

Ada. Tapi scope-nya beda — translator on-set tugasnya memastikan komunikasi antara tim STY dan tim production berjalan lancar selama shooting. Bukan untuk kebutuhan subtitle editing. Dua peran yang berbeda.

  1. GENERATE DaVinci Resolve AI Subtitle — generate subtitle Korea otomatis dari audio.
  2. TRANSLATE Export SRT, translate Korea > Indonesia pakai Claude AI.
  3. VERIFY Double check: dengerin via Google Translate voice, cocokkan sama suara STY.
  4. ROUGH CUT Setelah paham isi pembicaraan, baru mulai rough cut.
  5. PRO CHECK Translator profesional bahasa Korea finalkan subtitle Indonesia.

Takeaway:

AI mempercepat, tapi manusia yang memastikan akurasi. Jangan pernah skip verifikasi.

// Hasil

Hasil yang kami deliver

3 Hal yang Kami Bawa Pulang and We Mean It.

  1. Sistem > Kecepatan. Logbook, clapper, bin structure — kedengarannya basic. Tapi di project dengan narasumber asing, multi-take, dan deadline ketat, satu file name yang salah bisa bikin rugi berjam-jam.
  2. AI itu alat bantu, bukan pengganti. DaVinci AI dan Claude bantu aku translate bahasa yang nggak aku mengerti. Tapi tanpa verifikasi manual dan translator profesional, hasilnya bisa misleading.
  3. Batch review menyelamatkan timeline. Kalau tunggu 14 video selesai semua baru preview, timeline pasti jebol. Dengan batch review, feedback masuk lebih awal dan revisi nggak numpuk di akhir.

Project Selesai. Tapi Pelajarannya? Itu yang Stays

Terima kasih buat tim yang luar biasa — dari set sampai meja editing, dari translator sampai agency. Project ini membuktikan kalau kolaborasi lintas bahasa, lintas disiplin, dan timeline ketat itu bisa. Asal sistemnya kuat.

Credits:

Narasumber: Shin Tae Yong

Producer: Agnest Riansyah (bejanawaktu)

Asst. Producer: Namira (namiratania)

Cameraman 1: Yahya (yah.yaudah)

Cameraman 2: Nico (codifu)

Offline Editor: Pramudya Adji Pradana (pramudyadji)

Online Editor: Ival Rizky (ivalrz)

Next projects.