← Kembali ke Blog
Industri

Kenapa Videographer Indonesia Sering Pakai PAL?

Alasan videographer Indonesia lebih sering memilih format PAL dibanding NTSC ternyata bukan soal kualitas gambar, tapi warisan sejarah dan kebiasaan produksi.

P
Pramudya Adji PradanaCreative Director
// Tanggal21 September 2026
// Waktu baca5 menit
Kenapa Videographer Indonesia Sering Pakai PAL?

Kalau kamu pernah ngobrol sama videographer senior di Indonesia, pasti pernah dengar istilah PAL dan NTSC. Pertanyaannya sederhana: kenapa mereka lebih milih PAL? Jawaban singkatnya, ini soal warisan sejarah penyiaran, bukan soal mana yang lebih bagus secara teknis. Dan sampai sekarang, kebiasaan itu masih nempel di banyak alur produksi.

Nah, biar nggak salah paham, kita perlu mundur dulu ke asal-usul kedua standar ini.

Apa Itu NTSC dan Kenapa Namanya Muncul Terus?

NTSC adalah singkatan dari National Television System Committee, sebuah komite yang dibentuk di Amerika Serikat pada tahun 1940-an untuk menyeragamkan standar televisi analog, seperti dikutip dari artikel erablue.id berjudul "Mengenal NTSC, Standar Video dan Perbedaannya dengan PAL".

Standar ini pertama dipakai untuk televisi hitam putih, lalu diperbarui tahun 1953 supaya bisa menampilkan warna tanpa memutus kompatibilitas perangkat lama. Menurut sumber yang sama, NTSC memakai resolusi 525 baris pemindaian dan berjalan pada 29,97 frame per detik.

Angka 29,97 fps itu bukan kebetulan. Sumber erablue.id menjelaskan bahwa frekuensi 60Hz di Amerika Serikat jadi acuan awalnya, lalu disesuaikan lagi untuk menyisipkan sinyal warna. Dari sini kamu bisa lihat, standar video itu lahir dari kondisi kelistrikan dan politik penyiaran setempat, bukan dari selera estetika.

Jadi, Apa Hubungannya dengan Indonesia?

Indonesia tidak memakai NTSC. Negara kita masuk ke kubu PAL, standar yang dikembangkan di Jerman dan dipakai luas di Eropa, Australia, serta sebagian besar Asia. Artinya, sejak televisi pertama masuk ke rumah-rumah orang Indonesia, siaran yang mengudara memang berjalan di sistem PAL.

Dari situ, rantai kebiasaannya mulai. Stasiun TV lokal pakai PAL. Kamera broadcast yang masuk ke Indonesia disesuaikan ke PAL. Editor yang belajar di stasiun TV belajar PAL. Videographer yang kerja di bawah mereka juga ikut PAL.

Jadi ketika sekarang kamu lihat videographer freelance di Jakarta masih set kamera ke PAL, itu bukan karena mereka baru riset ulang soal standar. Itu karena rantai kebiasaan tadi belum pernah benar-benar putus.

Apakah PAL Lebih Bagus dari NTSC?

Secara angka, ada beda yang bisa dibandingkan. Menurut erablue.id, NTSC berjalan di 29,97 frame per detik. PAL berjalan di 25 frame per detik, karena mengikuti frekuensi listrik 50Hz di wilayah penggunanya.

Dari sisi jumlah frame, NTSC memang lebih tinggi. Tapi dari sisi lain, PAL justru sering dianggap lebih stabil untuk warna dan punya resolusi vertikal yang lebih rapat. Ini bagian yang bikin debatnya panjang dan nggak ada ujungnya.

Yang perlu kamu tahu, perbedaan ini nyaris nggak kelihatan di mata penonton biasa. Yang lihat bedanya adalah editor, colorist, dan orang-orang yang kerja di ruang grading berjam-jam.

Kalau Begitu, Kenapa Nggak Pindah ke NTSC Saja?

Pertanyaan bagus. Jawabannya ada tiga lapis.

  • Pertama, perangkat. Banyak kamera dan monitor broadcast yang dipakai di Indonesia sejak dulu memang dikonfigurasi untuk PAL. Mengganti seluruh rantai perangkat itu mahal dan merepotkan.
  • Kedua, arsip. Footage lama yang tersimpan di hard drive studio Indonesia mayoritas PAL. Kalau proyek baru pakai NTSC, mencampur keduanya di satu timeline bikin repot.
  • Ketiga, manusia. Editor dan videographer yang sudah bertahun-tahun kerja di PAL punya muscle memory sendiri. Mengubah kebiasaan itu butuh alasan yang jauh lebih kuat daripada sekadar "NTSC lebih tinggi frame rate-nya".

Anyway, ini bukan soal siapa yang benar. Ini soal mana yang paling nggak bikin kerjaan berantakan.

Lalu, Gimana Videographer Muda Sekarang?

Di sini plot twist-nya. Banyak videographer muda di Indonesia sebenarnya sudah nggak terlalu peduli PAL atau NTSC. Kamera digital modern sering punya mode yang bisa disetel bebas, dan output akhirnya biasanya dikonversi ke resolusi serta frame rate yang diminta platform.

Instagram, YouTube, dan TikTok punya rekomendasi frame rate sendiri. Jadi videographer sekarang lebih sering mikirin "frame rate berapa yang pas buat platform ini" daripada "aku tim PAL atau tim NTSC".

Tapi, warisan PAL tetap kelihatan di satu tempat: workflow di rumah produksi yang sudah lama berdiri. Di situ, PAL masih jadi default karena semua orang di tim sudah nyaman dengan angka 25 fps.

Apakah Ini Berarti NTSC Bakal Hilang dari Indonesia?

Nggak juga. NTSC tetap relevan untuk proyek yang memang ditujukan ke pasar Amerika atau Jepang. Kalau kliennya brand global dengan kantor pusat di sana, deliverable sering diminta NTSC.

Jadi di praktiknya, videographer Indonesia sekarang hidup di dua dunia. PAL untuk proyek lokal dan kebiasaan lama, NTSC untuk proyek yang memang menuntut standar itu.

Yang penting bukan memilih salah satu dan merasa paling benar. Yang penting tahu kenapa kamu memilih, dan bisa jelasin ke klien dengan bahasa yang masuk akal.

Jadi, Harus Pilih yang Mana Buat Proyek Kamu?

Balik lagi ke kebutuhan. Kalau proyeknya tayang di TV lokal atau kerja sama dengan rumah produksi yang sudah mapan di PAL, ya pakai PAL. Kalau proyeknya untuk klien luar negeri yang minta NTSC, ya pakai NTSC.

Yang sering bikin masalah bukan pilihan standarnya, tapi ketidakkonsistenan di tengah proyek. Kamera A PAL, kamera B NTSC, lalu digabung di satu timeline tanpa konversi. Hasilnya bisa bikin editor nangis di pojokan.

Jadi sebelum mulai syuting, tanyakan dulu ke seluruh tim: kita pakai standar apa, dan apakah semua kamera sudah disetel sama? Pertanyaan sesederhana itu bisa menyelamatkan berjam-jam kerja di ruang edit.

Nah, sekarang kamu sudah tahu kenapa videographer Indonesia sering pakai PAL. Bukan karena PAL lebih keren, tapi karena sejarah penyiaran kita memang jalan di sana. Selama alasan itu masih masuk akal untuk proyekmu, nggak ada yang salah dengan ikut arus. Yang salah cuma kalau kamu ikut arus tanpa tahu kenapa.

Sumber

// Tags
palntscvideographerstandar videoproduksi video
P
// Ditulis olehPramudya Adji Pradana

Tim kreatif di balik Hayuk Main Creative Lab — production house berbasis di Jakarta yang fokus pada fotografi, videografi, dan visual storytelling sejak 2018.

Baca juga.

Cerita lain dari balik lensa tim kami.

// Ready? //

Siap mulai project
bersama kami?

Konsultasi gratis, tanpa komitmen. Ceritakan kebutuhan kamu.

Book Sekarang →Hubungi Kami